Welcome to Egi Gi

Pages

Sunday, November 27, 2011

Perguruan Pencak Silat Indonesia Harimurti

Sukowinadi

04suko01Perguruan Pencak Silat Indonesia Harimurti atau disingkat PERPI Harimurti adalah salah satu dari sepuluh perguruan pencak silat historis IPSI. Proses berdirinya perguruan ini, mulai dari Pencak Tejokusuman, Perguruan Pencak Indonesia Mataram (PERPIM), Persatuan Pencak Indonesia (PERPI) sampai PERPI Harimurti, tidak lepas dari peran pendekar tua yang saat ini sudah berusia 86 tahun. Dialah Sukowinadi, yang akrab dipanggil Pak Suko. Meskipun dilihat dari usia boleh dikatakan uzur, yang ditandai dengan rambutnya yang sudah memutih serta garis-garis ketuaan yang menghiasi wajahnya, namun penglihatan, pendengaran, serta daya ingatnya masih normal, bahkan luar biasa. Fisiknya pun demikian, ia masih mampu membuat fotografer terpelanting terkena teknik guntingan kakinya yang sempurna.
Ditemui di Jl. Veteran 13, Yogyakarta, dengan jelas dan gamblang ia menceritakan perkembangan pencak silat di Yogyakarta sebelum masa kemerdekaan, kronologis berdirinya perguruan PERPI Harimurti, dan proses terbentuknya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di luar kepala, sungguh daya ingat yang mengagumkan. Pandangannya mengenai perkembangan pencak silat saat ini menunjukkan betapa kritisnya ia menanggapi berbagai hal, argumentasinya yang kuat membuat orang yang mendebatnya tidak mampu menyanggahnya.
Pembawaannya yang ramah dan terbuka tidak menampakkan bahwa ia adalah seorang pendekar yang disegani, bahkan cara berbicaranya lebih mirip seorang kakek yang sedang menasihati cucunya. "Kalau kamu tinggal beberapa hari lagi di sini, saya akan kasihkan jurus-jurus praktis yang mudah dipelajari untuk penjagaan diri," ujarnya.
Ketika ditanyakan lebih jauh, bagaimana yang dikatakan jurus praktis itu, ia menerangkan sambil langsung memperagakannya.
"Kata para pakar, pencak silat itu bisa dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga, sedangkan olahraga berhubungan erat dengan anatomi tubuh manusia. Maka seorang pesilat harus memahami ilmu anatomi. Dengan ilmu ini, kita dapat mengolahnya agar menjadi sehat, serta dapat pula digunakan untuk mengetahui bagian tubuh lawan yang lemah. Ini khusus untuk penggunaan dalam beladiri," ujarnya sambil menunjukkan bagian-bagian tubuh mana yang bisa dijadikan sasaran pukulan, tendangan, atau bentuk serangan yang lain.
Memang langsung dapat dirasakan bahwa setiap bagian tubuh yang dipegang, ditekan, atau dipukul dengan tenaga yang relatif lemah, namun efeknya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Bagaimana ia bisa mendapatkan kemahiran seperti itu? Ternyata jawabnya mudah sekali. "Logis saja, saya sudah berlatih selama 67 tahun, maka instink saya sudah terlatih untuk bergerak mempertahankan diri pada saat yang diperlukan. Jadi, intinya adalah berlatih! Itu kan logis. Belajar pencak silat itu yang logis saja.Tidak usah mistik-mistikan! Yang logis saja susah diterangkan, apalagi yang mistik!" kata mantan perwira penerangan itu menasehati.
"Keluarga saya dikaruniai umur yang panjang. Ayah meninggal pada usia sekitar 100 tahun, kakak meninggal pada usia 96 tahun. Saya kan sekarang ini masih 86 tahun. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, saya masih kuat untuk melatih," jawabnya ketika ditanya tentang resep panjang umur.
Pada saat pengambilan foto, dapat disaksikan bahwa ia memang layak disebut pendekar. Ia seakan tidak merasa lelah sedikitpun ketika memperagakan berbagai macam jurus PERPI Harimurti, dari mulai gerak dasar, aplikasi jurus, permainan pisau, sampai teknik meditasi Padam Prana yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh dan ketentraman jiwa. Menurut penuturannya meditasi ini merupakan warisan dari eyangnya sendiri, Ronggowarsito.
"Beladiri itu kodrat makhluk hidup, termasuk manusia. Namun karena manusia dibekali akal, maka harus digunakan. Demikian pula dengan pencak silat. Kita jangan hanya nrimo saja apa yang diberikan oleh guru, namun harus diolah kembali dengan menggunakan akal pikiran agar lebih sempurna dari waktu ke waktu. Bagi saya pencak silat adalah nomor satu, di mana saya berada, di situ saya harus melatih. Itulah pengabdian," tuturnya mengakhiri perbincangan.

No comments:

Post a Comment